Sunday, December 6, 2015

malaikat dalam al-Qur'an



Malaikat dalam Al-Qur’an
Malaikat adalah salah satu makhluk yang taat dan patuh kepada segala ketentuan dan perintah Allah SWT. Menurut bahasa, kata malaikat merupakan bentuk jamak yang dari kata malak, yang artinya adalah kekuatan. Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dan bersifat ghoib. Manusia dapat melihat malaikat hanya apabila dikehendaki olrh Allah SWT. Biasanya hal terjadi pada para nabi atau rasul. Namun, malaikat lebih sering merubah wujudnya menjadi sosok lain, misalnya berubah menjadi seorang laki-laki, seperti yang terjadi pada kisah nabi Ibrahim AS, ketika ada dua malaikat yang berubah dalam wujud pria, bertamu ke rumah beliau untuk membicarakan masalah kaum Luth yang akan dihancurkan oleh Allah SWT.[1]
ٱلحَمدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلأَرضِ جَاعِلِ ٱلمَلَٰئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِي أَجنِحَة مَّثنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ يَزِيدُ فِي ٱلخَلقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيء قَدِير)  ١(
“segala puji bagi Allah SWT pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing ada yang dua, tiga dan empat. Allah SWT menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS.Fatir [35]: 1).
Lafadz malaikat serta ragam derivasinya di dalam al-Qur’an, terulang sebanyak 211 kali.[2] Pada umumnya, menggunakan lafadz “malaikat”, untuk menunjukkan makhluk ciptaan Allah SWT. Namun ada sebagian yang menggunakan lafadz “malak”, untuk menunjukkan kepunyaan atau kekuasaan. Adapun ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat-sifat malaikat, terdapat dalam beberapa ayat, yaitu:


·           QS. Ar-Rad [6]: 13.
وَيُسَبِّحُ ٱلرَّعدُ بِحَمدِهِۦ وَٱلمَلَٰئِكَةُ مِن خِيفَتِهِۦ وَيُرسِلُ ٱلصَّوَٰعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَاءُ وَهُم يُجَٰدِلُونَ فِي ٱللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ ٱلمِحَالِ )١٣(
“Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan yang Maha keras siksa-Nya”.
·           QS.Al-Isra’ [17]: 61
وَإِذ قُلنَا لِلمَلَٰئِكَةِ ٱسجُدُواْ لِأدَمَ فَسَجَدُواْ إِلَّا إِبلِيسَ قَالَ ءَأَسجُدُ لِمَن خَلَقتَ طِينا )٦١(
“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”
·           QS. Asy-Syura [42] : 5
تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرنَ مِن فَوقِهِنَّ وَٱلمَلَٰئِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمدِ رَبِّهِم وَيَستَغفِرُونَ لِمَن فِي ٱلأَرضِ أَلَا إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ)  ٥(
“Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
Perbedaan Malaikat dengan makhluk yang lain:
·                      Malaikat
1.      Diciptakan dari cahaya dan tidak berjenis kelamin
2.      Diciptakan lebih dahulu
3.      Dapat menjelma menjadi apa saja
4.      Termasuk makhluk gaib
5.      Semua taat kepada Allah
6.      Tidak mempunyai nafsu
7.      Terpelihara dari perbuatan dosa
8.      Mengajak manusia berbuat kebaikan
9.      Diciptakan tidak berpasangan
·           Manusia
1.      Diciptakan dari tanah (Nabi Adam AS) dan berjenis kelamin
2.      Diciptakan lebih akhir dari malaikat
3.      Hanya memiliki satu bentuk saja
4.    Tidak termasuk makhluk gaib
5.      Ada yang ingkar kepada Allah
6.      Diciptakan mempunyai nafsu
7.    Berpasang-pasangan.
·           Jin
1.      Diciptakan dari api
2.    Termasuk makhluk gaib
3.      Ada yang muslim dan ada yang kafir
4.      Dapat menjelma menjadi apa saja
5.      Mempunyai hawa nafsu
6.      Berjenis kelamin
7.      Mempunyai keturunan
8.      Umurnya lebih lama dari manusia
Jumlah malaikat secara pasti, tidak diketahui. Namun, yang wajib diketahui menurut ilmu tauhid, hanya 9. Berikut nama-nama malaikat beserta tugasnya yang wajib untuk diketahui:


·           Jibril, pemimpin para malaikat, bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para Nabi dan Rasul
·           Mikail, pemberi rezeki kepada seluruh makhluk
·           Israfil, peniup sangkakala pada hari kiamat
·           Izrail, pencabut nyawa.
·           Munkar dan nakir, pemeriksa amal manusia di alam barzah
·           Rakib, pencatat amal kebaikan
·           Atit, pencatat amal keburukan
·           Malik, penjaga pintu neraka
·           Ridwan, penjaga pintu surga.[3]
Malaikat melaksanakan tugasnya masing-masing tanpa pernah mengeluh dan menyalahinya satu sama lain.




Kesimpulan
Lafadz malaikat dalam Al-Qur’an digunakan untuk menunjukkan ada makhluk ciptaan Allah SWT, yang ghoib. Malaikat adalah salah satu makhluk yang taat dan patuh kepada segala ketentuan dan perintah Allah SWT. Ketaatan malaikat dikarenakan tidak adanya hawa nafsu yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Berbeda dengan manusia, yang dalam penciptaannya, disertai dengan hawa nafsu. Selain adanya hawa nafsu, perbedaan antara penciptaan malaikat dengan penciptaan manusia yaitu tidak adanya jenis kelamin dalam malaikat, masa hidupnya yang panjang, hingga hari kiamat. Selama masa hidup yang panjang tersebut, yang dilakukan oleh malaikat yaitu beribadah kepada Allah SWT, sesuai dengan yang diperintahkan, secara terus-menerus.


Daftar Pustaka
Quraisy shihab,dkk, Ensiklopedi al-Qur’an kajian kosa kata jilid I. (Jakarta:lentera Hati, 2007),
Muhammad Fuad Abdul Baqi’, Al-Mu’jamu al-Mufahros li Alfadzi al-Qur’an al-Karim (Kairo : Darul Hadis, 2001)
http://www.academia.edu diakses 31 Mei 2015 pukul 17.30






[1]Quraisy shihab,dkk, Ensiklopedi al-Qur’an kajian kosa kata jilid I. (Jakarta:lentera Hati, 2007), hlm109
[2] Muhammad Fuad Abdul Baqi’, Al-Mu’jamu al-Mufahros li Alfadzi al-Qur’an al-Karim (Kairo : Darul Hadis, 2001) hlm. 673-675
[3]http://www.academia.edu diakses 31 Mei 2015 pukul 17.30

Saturday, December 5, 2015

makalah sejarah al-Qur'an

sejarah al-qur'an di batu putih, kecamatan kundur



BAGIAN I
PENDAHULUAN
Jl.gading, batu putih, kel. Gading Sari, kec. Kundur, kab. Karimun, Kepulauan Riau merupakan lokasi kampung halamanku, disana pula tempat awal mulanya saya belajar segala macam hal. Desaku terletak di pulau kecil yang hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk mengelilingi pulau, dan desaku hanya terletak kurang lebih 1 km dari pesisir pantai, berada di lereng bukit durian yang penuh dengan tumpukan bebatuan-bebatuan besar yang dihasilkan dari letusan gunung berapi ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, begitu banyaknya bebatuan didesa kami bahkan ada yang besarnya melebihi dari rumah (ada beberapa bebatuan di desa kami yang memiliki keunikan sendiri dan memiliki nama sesuai bentuk dan kebiasaannya seperti batu kapal ia dinamakan batu kapal karena memang batu tersebut memiliki bentuk seperti bagian depan kapal yang sangat besar, batu gajah karena batu ini berbentuk persis seperti gajah duduk dan lengkap dengan belalainya akan tetapi bati ini hanya tinggal kenangan saja karena sudah dihancurkan dan dijadikan uang, batu lebah karena batu tersebut sering ditempati oleh lebah setiap berapa bulan sekali yang amat banyak jumlahnya bentuk dari batu ini paling besar diantara batu lainnya ia terdiri dari dua tumpukan batu yang amat besar dan di tengahnya terdapat seperti lembah dan dahulu batu ini sering dibuat orang untuk bertapa atau semedi mencari pusaka dll, batu bilik atau kamar karena batu tersebut memiliki ruangan seperti goa, dan masih banyak lagi), bagi sebagian masyarakat batu putih bebatuan-bebatuan tersebut merupakan ladang pencaharian nafkah keluarga. Sebagian masyarakat kami bermata pencarian jual beli batu, sebagian lain menderes pohon karet dan sebagian kecil guru, petani sayuran, dll.
Mayoritas masyarakat berasal dari suku jawa, suku melayu, bugis, batak, dan banjar. Tidak banyak penduduk asli yang bersuku melayu didesa kami banyak suku-suku perantau yang masuk ke desa dan menetap.
BAGIAN II
PEMBAHASAN
a.       Periode pertama 1935-2001.
Masjid didesa kami bernama Masjid al-Munawwarah yang didirikan pada sekitar tahun 1935-an yang mendaptkan waqaf tanah dari seorang dermawan yang bernama Mbah Jumar. Pengajaran al-Qur’an didesa kami mengalami beberapa periode;
Pengajaran al-Qur’an pada saat itu menurut beberapa informasi dilakukan di masjid al-Munawwarah setiap ba’da maghrib yang dipimpin oleh seorang kyai didaerah kami yang bernama kyai Kalam (W.1960-an M), ia sekaligus sebagai ta’mir masjid juga, setelah kyai kalam wafat pengajaran al-Qur’an digantikan oleh murid-muridnya yang telah khatam dan mahir dalam membaca al-Qur’an. Ada beberapa tingkatan dalam pengajarannya. Pertama, bagi pemula yaitu pengenalan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan kitab Qaidah Baghdadiyah (dikampung kami disebut dengan mukaddam dan saya sempat mengaji dengan qaidah tersebut) yang terdiri dari juz Amma dan didahului dengan huruf hijaiyah, pengajaran dengan qaidah ini berlanjut hingga tahun 2002 M dan digantikan dengan IQRA’. Kedua, bagi murid yang sudah hafal dengan huruf hijaiyah diharuskan menghafal juz amma yang pada pengajarannya dengan cara dibimbing terlebih dahulu lalu murid mengikuti sang guru hingga tanpa sadar seorang murid hafal dengan sendirinya. Ketiga, murid yang sudah hafal juz amma akan diperbolehkan membaca al-Qur’an dari awal surat yaitu al-Fatihah hingga seterusnya dengan disimak oleh seorang guru hingga khatam al-Qur’an.
b.      Periode kedua 2001-2004
Pada tahun 2001 M pengajaran al-Qur’an di masjid al-Munawwarah sempat terhenti dikarenakan ketidak adanya sang guru. Akan tetapi beberapa bulan setelah itu untuk mengantisipasi para generasi muda agar tetap mengaji Bapak H.Mursyd (W. 19 Feb 2010) membuka tempat pengajaran al-Qur’an dirumahnya. Pada masa ini terjadi beberapa perubahan model pengajaran; seperti pergantian qaidah dari qaidah al-Baghdadiyah (muqaddam), mulai adanya pengajaran ilmu tajwid pada setiap malam selasa, dan adanya pengajaran seni hadrah khas kampung halaman kami yang disebut dengan kompang. Metode pengajaran yang lainnya tidak jauh berbeda dengan periode pertama dan masih menggunakan Qaidah al-Baghdadiyah bagi murid yang baru belajar al-Qur’an pada awal periode hingga digantikan menggunakan IQRA’ pada tahun 2002 atas inisiatif dari bapak H.Mursyid sendiri pada saat itu. Namun pengajaran al-Qur’an dirumah bapak H. Mursyd tidak berlangsung lama hanya sampai pada tahun 2004 dikarenakan keengganan para pemuda desa kami untuk mengaji al-Qur’an, dan selain itu juga dipengaruhi oleh faktor jarak yang jauh bagi sebagian murid.
c.       Periode ketiga 2004-2008
Pada tahun 2004 pengajian di masjid al-Munawwarah mulai aktif kembali yang dibuka oleh bapak Maryulin dan istrinya, dan tidak ada perbedaan yang menonjol dari periode pertama yang diwariskan oleh kyai Kalam. tetapi saya bersama saudara saya tidak lagi mengaji di masjid al-Munawwarah, kami hanya mengaji dirumah bersama orang tua, dan pada pertengahan tahun 2004 kami mulai kembali mengaji dimasjid akan tetapi dimasjid kampung sebelah yang bernama masjid Akbar, dan terletak di pinggir desa Tanjung Sari berjarak kurang lebih 1,5 km dari rumah kami. Model pengajaran dan waktunya sama seperti di masjid al-Munawwarah.
Di masjid Akbar pengajaran dipimpin oleh Ibu Marsidah bersama saudaranya Ibu Timah, Ibu Imah, dan Pak Irwan (suami Ibu Timah), hanya saja dimasjid Akbar terdapat TPQ (taman pengajian al-Qur’an) yang dilaksanakan pada hari senin, rabu, dan sabtu dimulai setelah pulang sekolah atau tepatnya jam 2 hingga jam 4, disana kami diajarkan bacaan dan cara solat, bacaan dzikir dan tahlil, hadis, fiqih, hingga ilmu tajwid. Pada tahun 2006 di masjid Akbar mulai ada tambahan jam belajar yaitu tilawah (di tempat kami disebut ngaji lagu) yang di pimpin oleh Bapak Iskandar, tidak banyak yang mengikutinya hanya bagi orang yang telah dianggap lancar membaca al-Qur’an saja.
Hal yang unik dari pengajaran al-Qur’an dimasjid Akbar dibandingkan dengan tempat pengajaran al-Qur’an lainnya ialah setiap dua bulan sekali selalu diadakan rekreasi gratis guna untuk menambah semangat para murid yang mengaji dimasjid Akbar yang diadakan oleh para guru kami, dengan menyewa pickup milik saudara ibu Marsidah, biasanya kami kepantai lubuk yang letaknya hanya sekitar 4,5 km dari masjid Akbar dan setahun sekali kami kepantai timun yang jaraknya lebih dari 30 km dari masjid Akbar.
Walaupun telah diadakannya banyak rekreasi kebanyakan para murid atau santri di daerah kami dan masjid Akbar sekalipun setelah lulus dari SMP mulai enggan untuk mengaji karena mereka menganggap mengaji al-Qur’an hanyalah bagi anak-anak umuran dibawah SMA saja, dan akibat dari hal tersebut lama kelamaan murid atau santri yang berpendidikan SMA yang masih hendak bertahan menjadi enggan pula untuk mengaji dikarena malu atau minder terhadap adik kelasnya. Dan teradisi buruk ini masih saja ada hingga sekarang.
d.      Periode keempat 2008-sekarang
Pada periode 2008 pengajaran dimasjid Akbar terdapat adanya perbedaan yang menonjol pada periode ini mulai adanya diadakan acara khataman di akhir tahun bagi murid yang telah khatam al-Qur’an dan adanya panggung lomba yang berlangsung selama satu minggu dimulai dari perlombaan yang religius seperti lomba adzan bagi laki-laki, menyucikan najis, cerdas cermat agama, sholat subuh berjamaah, qori’ (ngaji lagu), dan masih banyak lagi. hingga yang bersifat hiburan seperti tarik tambang, lari estafet, egrang, estafet kelereng dengan sendok, dan masih banyak lagi. Dengan adanya acara khataman dimasjid Akbar para masjid atau kampung lain yang ada pengajian al-Qur’annya seperti desa kami pun pada tahun 2009 mulai diadakan acara yang sama dan diikuti desa lainnya.
Pada tahun 2008 pula mulai adanya tempat pengajaran al-Qur’an didesa kami tepat didepan rumah kami disurau atau mushala al-Ikhlas[1] yang diadakan oleh ibu Siti Murni (beliau adalah satu-satunya hafidz yang ada didesa kami dan sebagai pelopor dari para pemuda-pemudi desa kami untuk menuntut ilmu ditanah Jawa dan beliau adalah anak dari H. Mursyd yang ke-6), ibu istiqamah (merupakan kakak dari ibu Siti Murni, ia pun pernah menuntut ilmu ditanah Jawa namun hanya selama 3 tahun), bapak dzulqifli (suami dari ibu Istiqamah), dan bapak M. Fathul Umam (suami dari ibu Siti Murni).
Metode pengajarannya sama seperti metode bapak H. Mursyd yaitu bagi murid pemula menggunakan IQRA’, kemudian naik ke penghafalan juz Amma dan setelah itu langsung membaca al-Qur’an dengan di sima’ oleh seorang guru. Pengajaran disurai al-Ikhlas libur pada setiap malam jum’at dan diadakan acara rutinan yasin dan tahlil bersama guru-guru dan wali murid, yang di pimpin oleh bapak imam surau kami bapak Samsuri dan Bapak Nawawi.
Dan pada akhir tahun 2008 mulai didirikan MDA yang di pimpin oleh ibu Siti Murni, dalam pengajarannya terdapat perkembangan dan perbedaan dari MDA atau TPQ di tempat lain, pengajarannya terbagi menjadi 4 kelas yang dibagi sesuai tingkat mengaji al-Qur’an seorang murid; kelas pertama ialah kelas bagi pemula yang masih mengaji IQRA’, dan belum hafal juz Amma, pengajarannya mulai dari pengenalan huruf, menulis huruf hijaiyah, do’a-do’a sehari-hari, dan lain-lain. Kelas kedua ialah kelas bagi murid yang telah menghafal juz Amma, hafal do’a sehari-hari, dan lulus tes tulis pengajarannya mulai dari do’a sehari-hari, bacaan solat, hafalan surat pendek, tajwid, fiqih, dan lain-lain. Kelas ketiga ialah bagi murid yang telah menghafal juz Amma, lolos ujian praktek (solat subuh, do’a sehari-hari, hafal juz Amma diluar kepala) dan tes tulis yang diberikan oleh sang guru, pengajarnnya menghafal bacaan zdikir dan tahlil, fiqih, hadis, sifat wajib Allah, hafal surat-surat penting (yasin, waqi’ah, dan ar-Rahman), pemantapan atau pendalaman ilmu tajwid dan makharijul huruf, penghafalan kosa kata arab dan lain-lain. Kelas keempat pengajarannya imla’ (guru mendikte teks arab dan murid menulisnya), khat (kaligrafi), ilmu kalam, hadis, fiqih dan lain-lain.
Di MDA surau al-Ikhlas pun terdapat acara khataman yang megah seperti tempat pengajaran al-Qur’an lainnya yang diadakan setiap akhir tahun ajaran baru, acara ini bersamaan dengan acara kenaikan kelas dan pembagian raport MDA yang dimeriahkan oleh hadrah atau kesenian kompang dari MDA al-Ikhlas sendiri.
BAGIAN III
PENUTUP
Sejarah pengajaran al-Qur’an didesa batu putih telah mengalami perkembangan yang amat banyak dan amat pesat sejak tahun 1935 berdirinya masjid al-Munawwarah yang dipimpin oleh kyai Kalam hingga sekarang banyaknya muncul tempat pengajaran al-Qur’an yang moderen seperti di TPQ masjid Akbar dan yang paling masyhur ialah MDA surau al-Ikhlas.


[1] Berdiri pada tahun 2007 yang mendapat waqaf dari bapak Sutresno (w. 2011), terjadi banyak perselisihan dan pertentangan pada saat pendirian surau al-Ikhlas antara masyarakat batu putih laut dan darat, karena ditakutkannya akan terjadi kekosongan masjid (masjid al-Munawwarah) dan perpecahan jama’ah menjadi dua bagian karena sebagian besar pengisi masjid adalah masyarakat dari batu putih bagian darat. Akan tetapi niat untuk mendirikan surau di batu putih bagian darat tidak tergoyahkan. Karena sebagian masyarakat beranggapan selama hal tersebut baik kenapa tidak dilakukan dan akhirnya berdirilah surau tersebut.