BAGIAN I
PENDAHULUAN
Jl.gading, batu putih, kel. Gading Sari,
kec. Kundur, kab. Karimun, Kepulauan Riau merupakan lokasi kampung halamanku,
disana pula tempat awal mulanya saya belajar segala macam hal. Desaku terletak
di pulau kecil yang hanya butuh waktu beberapa jam saja untuk mengelilingi
pulau, dan desaku hanya terletak kurang lebih 1 km dari pesisir pantai, berada
di lereng bukit durian yang penuh dengan tumpukan bebatuan-bebatuan besar yang
dihasilkan dari letusan gunung berapi ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu,
begitu banyaknya bebatuan didesa kami bahkan ada yang besarnya melebihi dari
rumah (ada beberapa bebatuan di desa kami yang memiliki keunikan sendiri dan
memiliki nama sesuai bentuk dan kebiasaannya seperti batu kapal ia dinamakan
batu kapal karena memang batu tersebut memiliki bentuk seperti bagian depan
kapal yang sangat besar, batu gajah karena batu ini berbentuk persis seperti
gajah duduk dan lengkap dengan belalainya akan tetapi bati ini hanya tinggal
kenangan saja karena sudah dihancurkan dan dijadikan uang, batu lebah karena
batu tersebut sering ditempati oleh lebah setiap berapa bulan sekali yang amat
banyak jumlahnya bentuk dari batu ini paling besar diantara batu lainnya ia
terdiri dari dua tumpukan batu yang amat besar dan di tengahnya terdapat
seperti lembah dan dahulu batu ini sering dibuat orang untuk bertapa atau
semedi mencari pusaka dll, batu bilik atau kamar karena batu tersebut memiliki
ruangan seperti goa, dan masih banyak lagi), bagi sebagian masyarakat batu
putih bebatuan-bebatuan tersebut merupakan ladang pencaharian nafkah keluarga. Sebagian
masyarakat kami bermata pencarian jual beli batu, sebagian lain menderes pohon
karet dan sebagian kecil guru, petani sayuran, dll.
Mayoritas masyarakat berasal dari suku
jawa, suku melayu, bugis, batak, dan banjar. Tidak banyak penduduk asli yang
bersuku melayu didesa kami banyak suku-suku perantau yang masuk ke desa dan
menetap.
BAGIAN II
PEMBAHASAN
a.
Periode
pertama 1935-2001.
Masjid didesa kami bernama Masjid al-Munawwarah yang
didirikan pada sekitar tahun 1935-an yang mendaptkan waqaf tanah dari seorang
dermawan yang bernama Mbah Jumar. Pengajaran al-Qur’an didesa kami mengalami
beberapa periode;
Pengajaran al-Qur’an pada saat itu
menurut beberapa informasi dilakukan di masjid al-Munawwarah setiap ba’da
maghrib yang dipimpin oleh seorang kyai didaerah kami yang bernama kyai Kalam
(W.1960-an M), ia sekaligus sebagai ta’mir masjid juga, setelah kyai kalam
wafat pengajaran al-Qur’an digantikan oleh murid-muridnya yang telah khatam dan
mahir dalam membaca al-Qur’an. Ada beberapa tingkatan dalam pengajarannya. Pertama,
bagi pemula yaitu pengenalan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan kitab
Qaidah Baghdadiyah (dikampung kami disebut dengan mukaddam dan saya sempat
mengaji dengan qaidah tersebut) yang terdiri dari juz Amma dan didahului dengan
huruf hijaiyah, pengajaran dengan qaidah ini berlanjut hingga tahun 2002 M dan
digantikan dengan IQRA’. Kedua, bagi murid yang sudah hafal dengan huruf hijaiyah
diharuskan menghafal juz amma yang pada pengajarannya dengan cara dibimbing
terlebih dahulu lalu murid mengikuti sang guru hingga tanpa sadar seorang murid
hafal dengan sendirinya. Ketiga, murid yang sudah hafal juz amma akan
diperbolehkan membaca al-Qur’an dari awal surat yaitu al-Fatihah hingga
seterusnya dengan disimak oleh seorang guru hingga khatam al-Qur’an.
b.
Periode
kedua 2001-2004
Pada tahun 2001 M pengajaran al-Qur’an
di masjid al-Munawwarah sempat terhenti dikarenakan ketidak adanya sang guru.
Akan tetapi beberapa bulan setelah itu untuk mengantisipasi para generasi muda
agar tetap mengaji Bapak H.Mursyd (W. 19 Feb 2010) membuka tempat pengajaran
al-Qur’an dirumahnya. Pada masa ini terjadi beberapa perubahan model
pengajaran; seperti pergantian qaidah dari qaidah al-Baghdadiyah (muqaddam),
mulai adanya pengajaran ilmu tajwid pada setiap malam selasa, dan adanya
pengajaran seni hadrah khas kampung halaman kami yang disebut dengan kompang. Metode
pengajaran yang lainnya tidak jauh berbeda dengan periode pertama dan masih
menggunakan Qaidah al-Baghdadiyah bagi murid yang baru belajar al-Qur’an pada
awal periode hingga digantikan menggunakan IQRA’ pada tahun 2002 atas inisiatif
dari bapak H.Mursyid sendiri pada saat itu. Namun pengajaran al-Qur’an dirumah
bapak H. Mursyd tidak berlangsung lama hanya sampai pada tahun 2004 dikarenakan
keengganan para pemuda desa kami untuk mengaji al-Qur’an, dan selain itu juga
dipengaruhi oleh faktor jarak yang jauh bagi sebagian murid.
c.
Periode
ketiga 2004-2008
Pada tahun 2004 pengajian di masjid
al-Munawwarah mulai aktif kembali yang dibuka oleh bapak Maryulin dan istrinya,
dan tidak ada perbedaan yang menonjol dari periode pertama yang diwariskan oleh
kyai Kalam. tetapi saya bersama saudara saya tidak lagi mengaji di masjid
al-Munawwarah, kami hanya mengaji dirumah bersama orang tua, dan pada
pertengahan tahun 2004 kami mulai kembali mengaji dimasjid akan tetapi dimasjid
kampung sebelah yang bernama masjid Akbar, dan terletak di pinggir desa Tanjung
Sari berjarak kurang lebih 1,5 km dari rumah kami. Model pengajaran dan
waktunya sama seperti di masjid al-Munawwarah.
Di masjid Akbar pengajaran dipimpin oleh
Ibu Marsidah bersama saudaranya Ibu Timah, Ibu Imah, dan Pak Irwan (suami Ibu
Timah), hanya saja dimasjid Akbar terdapat TPQ (taman pengajian al-Qur’an) yang
dilaksanakan pada hari senin, rabu, dan sabtu dimulai setelah pulang sekolah
atau tepatnya jam 2 hingga jam 4, disana kami diajarkan bacaan dan cara solat,
bacaan dzikir dan tahlil, hadis, fiqih, hingga ilmu tajwid. Pada tahun 2006 di
masjid Akbar mulai ada tambahan jam belajar yaitu tilawah (di tempat kami
disebut ngaji lagu) yang di pimpin oleh Bapak Iskandar, tidak banyak yang
mengikutinya hanya bagi orang yang telah dianggap lancar membaca al-Qur’an saja.
Hal yang unik dari pengajaran al-Qur’an
dimasjid Akbar dibandingkan dengan tempat pengajaran al-Qur’an lainnya ialah
setiap dua bulan sekali selalu diadakan rekreasi gratis guna untuk menambah
semangat para murid yang mengaji dimasjid Akbar yang diadakan oleh para guru
kami, dengan menyewa pickup milik saudara ibu Marsidah, biasanya kami kepantai
lubuk yang letaknya hanya sekitar 4,5 km dari masjid Akbar dan setahun sekali
kami kepantai timun yang jaraknya lebih dari 30 km dari masjid Akbar.
Walaupun telah diadakannya banyak
rekreasi kebanyakan para murid atau santri di daerah kami dan masjid Akbar
sekalipun setelah lulus dari SMP mulai enggan untuk mengaji karena mereka
menganggap mengaji al-Qur’an hanyalah bagi anak-anak umuran dibawah SMA saja,
dan akibat dari hal tersebut lama kelamaan murid atau santri yang berpendidikan
SMA yang masih hendak bertahan menjadi enggan pula untuk mengaji dikarena malu
atau minder terhadap adik kelasnya. Dan teradisi buruk ini masih saja ada
hingga sekarang.
d.
Periode
keempat 2008-sekarang
Pada periode 2008 pengajaran dimasjid
Akbar terdapat adanya perbedaan yang menonjol pada periode ini mulai adanya
diadakan acara khataman di akhir tahun bagi murid yang telah khatam al-Qur’an
dan adanya panggung lomba yang berlangsung selama satu minggu dimulai dari
perlombaan yang religius seperti lomba adzan bagi laki-laki, menyucikan najis,
cerdas cermat agama, sholat subuh berjamaah, qori’ (ngaji lagu), dan masih
banyak lagi. hingga yang bersifat hiburan seperti tarik tambang, lari estafet,
egrang, estafet kelereng dengan sendok, dan masih banyak lagi. Dengan adanya
acara khataman dimasjid Akbar para masjid atau kampung lain yang ada pengajian
al-Qur’annya seperti desa kami pun pada tahun 2009 mulai diadakan acara yang
sama dan diikuti desa lainnya.
Pada tahun 2008 pula mulai adanya tempat
pengajaran al-Qur’an didesa kami tepat didepan rumah kami disurau atau mushala
al-Ikhlas[1]
yang diadakan oleh ibu Siti Murni (beliau adalah satu-satunya hafidz yang ada
didesa kami dan sebagai pelopor dari para pemuda-pemudi desa kami untuk
menuntut ilmu ditanah Jawa dan beliau adalah anak dari H. Mursyd yang ke-6),
ibu istiqamah (merupakan kakak dari ibu Siti Murni, ia pun pernah menuntut ilmu
ditanah Jawa namun hanya selama 3 tahun), bapak dzulqifli (suami dari ibu
Istiqamah), dan bapak M. Fathul Umam (suami dari ibu Siti Murni).
Metode pengajarannya sama seperti metode
bapak H. Mursyd yaitu bagi murid pemula menggunakan IQRA’, kemudian naik ke
penghafalan juz Amma dan setelah itu langsung membaca al-Qur’an dengan di sima’
oleh seorang guru. Pengajaran disurai al-Ikhlas libur pada setiap malam jum’at
dan diadakan acara rutinan yasin dan tahlil bersama guru-guru dan wali murid,
yang di pimpin oleh bapak imam surau kami bapak Samsuri dan Bapak Nawawi.
Dan pada akhir tahun 2008 mulai
didirikan MDA yang di pimpin oleh ibu Siti Murni, dalam pengajarannya terdapat
perkembangan dan perbedaan dari MDA atau TPQ di tempat lain, pengajarannya
terbagi menjadi 4 kelas yang dibagi sesuai tingkat mengaji al-Qur’an seorang
murid; kelas pertama ialah kelas bagi pemula yang masih mengaji IQRA’, dan
belum hafal juz Amma, pengajarannya mulai dari pengenalan huruf, menulis huruf
hijaiyah, do’a-do’a sehari-hari, dan lain-lain. Kelas kedua ialah kelas bagi
murid yang telah menghafal juz Amma, hafal do’a sehari-hari, dan lulus tes
tulis pengajarannya mulai dari do’a sehari-hari, bacaan solat, hafalan surat
pendek, tajwid, fiqih, dan lain-lain. Kelas ketiga ialah bagi murid yang telah
menghafal juz Amma, lolos ujian praktek (solat subuh, do’a sehari-hari, hafal
juz Amma diluar kepala) dan tes tulis yang diberikan oleh sang guru,
pengajarnnya menghafal bacaan zdikir dan tahlil, fiqih, hadis, sifat wajib
Allah, hafal surat-surat penting (yasin, waqi’ah, dan ar-Rahman), pemantapan
atau pendalaman ilmu tajwid dan makharijul huruf, penghafalan kosa kata arab
dan lain-lain. Kelas keempat pengajarannya imla’ (guru mendikte teks arab dan
murid menulisnya), khat (kaligrafi), ilmu kalam, hadis, fiqih dan lain-lain.
Di MDA surau al-Ikhlas pun terdapat
acara khataman yang megah seperti tempat pengajaran al-Qur’an lainnya yang
diadakan setiap akhir tahun ajaran baru, acara ini bersamaan dengan acara kenaikan
kelas dan pembagian raport MDA yang dimeriahkan oleh hadrah atau kesenian
kompang dari MDA al-Ikhlas sendiri.
BAGIAN III
PENUTUP
Sejarah pengajaran al-Qur’an didesa batu
putih telah mengalami perkembangan yang amat banyak dan amat pesat sejak tahun
1935 berdirinya masjid al-Munawwarah yang dipimpin oleh kyai Kalam hingga
sekarang banyaknya muncul tempat pengajaran al-Qur’an yang moderen seperti di
TPQ masjid Akbar dan yang paling masyhur ialah MDA surau al-Ikhlas.
[1] Berdiri pada tahun 2007 yang
mendapat waqaf dari bapak Sutresno (w. 2011), terjadi banyak perselisihan dan
pertentangan pada saat pendirian surau al-Ikhlas antara masyarakat batu putih
laut dan darat, karena ditakutkannya akan terjadi kekosongan masjid (masjid
al-Munawwarah) dan perpecahan jama’ah menjadi dua bagian karena sebagian besar
pengisi masjid adalah masyarakat dari batu putih bagian darat. Akan tetapi niat
untuk mendirikan surau di batu putih bagian darat tidak tergoyahkan. Karena
sebagian masyarakat beranggapan selama hal tersebut baik kenapa tidak dilakukan
dan akhirnya berdirilah surau tersebut.
No comments:
Post a Comment